Call Now On 02129042694 or Contact Us

PERMASALAHAN DAN PENGENDALIAN HAMA LALAT DI INDUSTRI

Posting Date: 03 AGT 2021
PERMASALAHAN DAN PENGENDALIAN HAMA LALAT DI INDUSTRI

Lalat termasuk hewan yang familiar di lingkungan dan seringkali dianggap sebagai vektor penyakit sehingga dikelompokkan sebagai hama baik di lingkungan perumahan maupun Industri. Sigit & Hadi (2006), lalat merupakan ordo diptera yang termasuk dalam klasifikasi serangga (insecta) pengganggu yang menyebarkan penyakit secara mekanik dan menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia dengan spesies yang sangat banyak.. Selain hama lalat terdapat juga beberapa hama serangga terbang lainnya yang sering dijumpai di industri makanan seperti hama nyamuk.

Jenis Hama Lalat

Lalat merupakan vektor foodborne diseases antara lain, diare, disentri, muntaber, typhus dan beberapa spesies dapat menyebabkan myiasis. Perilaku memakan bahan organik yang berada pada kotoran hewan maupun manusia dan sampah organik lainnya merupakan tahapan awal seekor lalat memulai mencemari tempat apapun yang dihinggapinya. Lalat juga memiliki kebiasaan defekasi dan muntah di setiap tempat hinggapnya. Perilaku ini mendukung munculnya penyakit emerging dan penyebaran penyakit menular lainnya. Iqbal (2014) menyatakan bahwa jarak terbang lalat tergantung pada ketersediaan makanan rata rata 6-9 km, terkadang mencapai 19-20 km atau 712 mil dari tempat perkembangbiakannya serta mampu terbang 4 mil/jam. Berikut beberapa jenis hama lalat yang kerap ditemui di lingkungan Industri Makanan maupun Farmasi dan Packaging;

  • Lalat rumah (Musca domestica)

Lalat rumah (Musca domestica) mudah berkembang biak, tempat perindukannya ditimbun sampah, tinja manusia dan binatang. Setiap 3-4 hari seekor lalat betina bertelur dalam 5-6 kelompok yang masing-masing berisi 75-150 butir telur. Jarak terbangnya dapat sampai 10 km, umur lalat dewasa 2-4 minggu. Musca domestica merupakan hama yang sering ditemui di sekitar permukiman penduduk, peternakan maupun industri makanan. Lalat rumah dominan banyak berada di timbunan sampah

  • Lalat Hijau (Chrysomya megacephala)

Lalat hijau (Chrysomya megacephala) memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari lalat rumah, lalat ini memiliki tubuh berwarna hijau metalik dengan kepala besar dan mata yang berwarna merah. Lalat hijau meletakkan telur dalam daging yang sudah membusuk, ikan, tempat pembuangan/ sampah dan hewan yang sudah mati, kebanyakan lalat hijau memang pemakan zat-zat organik yang membusuk, lalat hijau berkembang biak di bahan yang cair atau semi cair yang berasal dari hewan dan jarang berkembang biak di tempat kering atau bahan buah-buahan

  • Lalat Limbah (Psychodidae)

Lalat limbah umumnya berada di saluran pembuangan atau di tempat limbah industri yang dapat menjadi salah satu makanan lalat limbah, lalat limbah memiliki tubuh yang kecil (sekitar 2mm) dengan warna tubuh yang gelap mereka juga dikenal dengan nama lalat pembuangan. Telur dari lalat limbah biasanya ditemukan di saluran pembuangan ataupun tangki pembuangan bahkan hama lalat limbah ini sering terlihat di toilet

 
  • Lalat buah (Drosophilla)

Seperti namanya habitat lalat ini biasanya ditemukan pada buah-buahan baik yang sudah matang ataupun di limbah-limbah buah yang sudah membusuk maupun pada buah-buah yang difermentasikan. Hama lalat buah memiliki ukuran yang kecil sekitar 3 mm berwarna kuning agak kecoklatan serta mata yang berwarna merah. Sifat khas lalat buah adalah hanya dapat bertelur di dalam buah, larva (belatung) yang menetas dari telur tersebut akan merusak daging buah, sehingga buah menjadi busuk dan gugur

 
  • Lalat daging (Sarcophaga sp)

Lalat daging Berwarna abu-abu tua, berukuran sedang sampai besar, kira-kira 6-14 mm panjangnya, mempunyai tiga garis gelap pada bagian dorsal toraks, dan perutnya mempunyai corak seperti papan catur, Bersifat viviparous dan mengeluarkan larva hidup pada tempat perkembangbiakannya seperti daging, bangkai, kotoran dan sayuran yang membusuk

 

Ekologi Hama Lalat

Hama lalat umumnya menyukai tempat yang memiliki banyak sumber makanan untuk lalat seperti tumpukan sampah yang terdapat bahan organik yang sudah membusuk ataupun limbah makanan, buah yang sudah terlalu matang dan juga bangkai hewan. Widyati (2002) lalat sangat menyukai tempat yang sejuk dan tidak berangin, pada malam hari hinggap di semak-semak serta lebih menyukai makanan yang bersuhu tinggi dari suhu udara sekitar dan sangat membutuhkan air. Tingginya populasi lalat dikarenakan kondisi lingkungan yang saniter filth = jorok (Kusnadi, 2006).

Resiko dan Dampak Keberadaan Hama Lalat

  • Hama lalat dapat membawa penyakit antara lain, diare, disentri, muntaber, typhus dan beberapa spesies dapat menyebabkan myiasis hal tersebut juga sangat berbahaya terutama untuk industri makanan dan kosmetik
  • Pada lingkungan industri makanan, kosmetik maupun packaging, lalat juga dapat menyebabkan kerugian karena dapat mencemari produk serta memberi kesan yang tidak baik untuk konsumen
  • Hama lalat mencerminkan sanitasi yang buruk karena tingginya populasi lalat dikarenakan kondisi lingkungan yang saniter filth = jorok

Pencegahan Investasi Hama Lalat

Keberadaan hama lalat tentunya harus dimonitoring dan dilakukan pengecekkan serta pencegahan, berikut beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan untuk mencegah investasi hama serangga terbang :

  1. Pembersihan area secara keseluruhan agar kebersihan area dapat terjaga dengan baik sehingga dapat mencegah hama lalat untuk berkumpul dan berkembang biak
  2. Menutup akses masuk hama lalat seperti pintu dan jendela agar tertutup dengan rapat serta apabila di Industri makanan biasanya menggunakan curtain untuk membantu meminimalisir investasi hama lalat yang masuk ke dalam area
  3. Membersihkan sampah terutama sampah-sampah organik yang dapat menjadi sumber makanan hama lalat setiap hari agar sampah tidak menginap dan membusuk
  4. Menutup makanan atau produk agar tidak terkontaminasi/ dihinggapi oleh hama lalat
  5. Tidak membiarkan genangan air karena hama lalat sangat membutuhkan genangan air untuk berkembang biak
  6. Pastikan tempat sampah tertutup dengan rapat agar bau sampah tidak menyebar dan mengundang hama serangga terbang untuk datang serta dilakukan pencucian atau pembersihan tempat sampah secara rutin (harian) untuk menghindari adanya sisa sampah yang membusuk
  7. Memastikan saluran pembuangan dibersihkan secara periodik sehingga selalu dalam keadaan bersih agar tidak menjadi tempat berkembang biak hama lalat

 

 

 

Source :

Andiarsa, D. 2018. Flies: Vector Abandoned by Program?. BALABA Vol. 14 No. 2, Desember 2018.

Hadi, U & Sigit, S., 2006. Hama Pemukiman Indonesia Pengenalan Biologi & Pengendalian Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP). Bogor: Institut pertanian bogor.

Iqbal, W., at al., 2014. Role of housefly ( Musca domestica , Diptera?; Muscidae ) as a disease vector a review 2(2), 159–163. Pakistan.

Kusnaedi., 2006. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Jakarta: Penebar Swadaya.

Syahfari Helda dan Mujiyanto. 2012. IDENTIFIKASI HAMA LALAT BUAH (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA BERBAGAI  MACAM  BUAH-BUAHAN. Ziraah Volume 36 Nomor 1, Pebruari 2013 Halaman 32-39 ISSN 1412-1468.

Tanjung, N., 2016. Efektivitas Brbagai Bentuk Fly Trap dan Umpan Dalam Pengendalian Kepadatan Lalat Pada Pembuangan Sampah Jalan Budi Luhur Medan. Penelitian, 11(3), 217–222.

Widyati, R., 2002. Higiene Sanitasi Umum dan Perhotelan. Jakarta: Grasindo.